Setitik
air jatuh membasahi kacamataku, ku tatap cakrawala yang dihiasi langit kelabu.
Terlihat sesaat kilatan cahaya menyilaukan yang disertai gema memekak telinga.
Berbalut seragam sekolah putih-biru aku menunduk dan secara naluri aku
mempercepat langkah kakiku menyusuri jalan setapak menuju rumah sebelum hujan
turun. “Selamat sore, ma, aku pulang” salam yang biasa kuberikan ketika tiba
dirumah. “Iya nak” jawab mama yang saat itu berada di dapur menyiapkan makan
malam. Aku melepas sepatu ku dan berlari menuju istana pribadiku. Aku berbaring
sambil melirik ke arah jendela yang memberikan visualisasi kabut kelabu efek
hujan sore hari. Rintik air hujan menghipnotis diriku, membawaku menuju
kenangan masa lalu.
Aku berlari menuju SDN 16, menyusuri koridor dengan
langkah pelan. Seperti biasa, semua orang melirik ke arahku dan menatapku
dengan sinis. “Selamat pagi Nila si idiot!” sapa Reni teman sekelas yang selalu
mengejekku. Namaku Nila, lebih tepatnya aku dipanggil Nila si idiot, Nila si
autis atau Nila aneh. Panggilan yang tidak asing lagi di telingaku. Di sekolah ini aku dianggap berbeda, tak ada
yang mau berteman dengan ku. Mereka semua menyebutku anak autis. Aku-pun tak
tau apa artinya itu. Bel sekolah berdentang, menandakan jam pelajaran segera
dimulai. Aku duduk di bangku tengah. Di bangku berpasangan aku hanya duduk
seorang diri. Terkadang, naluri kecilku berbisik “aku ingin punya seorang
teman, yang dapat mewarnai hariku, yang mengukir goresan senyuman pantulan
kebahagiaan”.
Ketika jam sekolah telah usai, aku menuju taman sekolah.
Taman yang indah tempatku mengamati bunga dan kupu-kupu. Sesuatu ganjil terjadi
di siang ini. Ada seseorang gadis menatapku sambil tersenyum. Aku hanya terpaku
dan membalas senyumannya. Dia berjalan menghampiriku. “Hai, Nila!” sapa sang
gadis. “Darimana kamu tahu namaku? Aku belum pernah melihatmu disekolah, siapa
namamu?” tanya Nila heran. Tapi gadis itu tersenyum dan menjawab “Aku temanmu,
panggilah aku seperti keinginan hatimu”. Senyum tulus bahagia muncul dari bibir
mungil Nila “Aku ingin memanggilmu Pelangi”. “Aku menyukainya” jawab Pelangi.
Dia membawaku ke bangku taman. Aku duduk disampingnya. Dalam
hitungan menit kami menjadi akrab seperti saudara. Satu hal yang paling
membekas dalam pertemuan pertama kami. Saat ia bertanya “Kamu punya impian?”.
“Tentu saja, ada banyak hal yang ingin kulakukan didunia ini. Salah satu
impianku mempunyai teman baik” jawabku menatap Pelangi. “Apakah kamu pernah
menceritakan mimpimu kepada orang lain?”. Pertanyaan ini seolah mengalir deras
dalam darah, aku terdiam. “Aku tidak suka melakukannya”.
“Bagaimana jika kamu menulisnya?”
“Menulis?”
“Ya, setidaknya kamu membagikan cerita tentang dirimu secara tidak langsung selain itu kamu juga bisa mengembangkan kreativitasmu”
“Darimana aku harus memulai?” aku tertarik dengan metode yang ia berikan.
“Mulailah menulis hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupanmu, misalnya buku harian. Kembangkan itu menjadi sebuah cerita pendek atau puisi yang menghiasi hari-harimu” jawab Pelangi seraya tersenyum. “Baiklah, akan kumulai malam ini” jawabku berdiri dari bangku dan mengarahkan pandangan kearah mentari senja. Aku berbalik ke arah Pelangi, namun aku hanya menatap bangku taman yang kosong. “Anak itu pergi dengan seninya sendiri” gumamku dalam hati dihiasi senyum ke arah mentari.
“Bagaimana jika kamu menulisnya?”
“Menulis?”
“Ya, setidaknya kamu membagikan cerita tentang dirimu secara tidak langsung selain itu kamu juga bisa mengembangkan kreativitasmu”
“Darimana aku harus memulai?” aku tertarik dengan metode yang ia berikan.
“Mulailah menulis hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupanmu, misalnya buku harian. Kembangkan itu menjadi sebuah cerita pendek atau puisi yang menghiasi hari-harimu” jawab Pelangi seraya tersenyum. “Baiklah, akan kumulai malam ini” jawabku berdiri dari bangku dan mengarahkan pandangan kearah mentari senja. Aku berbalik ke arah Pelangi, namun aku hanya menatap bangku taman yang kosong. “Anak itu pergi dengan seninya sendiri” gumamku dalam hati dihiasi senyum ke arah mentari.
Matahari
telah turun dibalik horizon, digantikan oleh sinar bulan yang lembut. Malam ini
aku mulai menulis untuk pertama kalinya. Kucatat semua cerita yang kuingat hari
ini dan kuakhiri dengan kalimat terima kasih Tuhan. Ku peluk erat buku harian
ini hingga aku tak sadarkan diri.
“Selamat
pagi!” ucapku agak terkejut melihat Pelangi duduk dibangku sebelahku yang
kosong. Aku tersenyum riang menatap murid baru yang duduk disebelahku. “Semakin
hari kamu ini semakin aneh saja, Nila” ucap Toni sambil berlalu. Beberapa teman
meliriku sambil tertawa. “Mengapa mereka tidak menyapamu? Bahkan mengucap
selamat pagi-pun tidak” aku berbisik ke
Pelangi. “Karena kita dianggap sama. Disini kita kurang dihargai, karena itu
kita harus menciptakan diri kita agar lebih berharga dengan cara kita sendiri”
ucap Pelangi yang membuat semangatku bertambah. “Kemarin aku sudah mulai
menulis meskipun hanya sebatas pengalaman tapi kegiatan itu cukup melegahkan
untuk menuangkan emosi” aku berbicara dengan penuh semangat, semangat yang
belum pernah aku alami di masa sekolah ini. “Aku rasa kamu telah mengenal lebih
baik tentang dirimu, teruslah untuk mengembangkan hobimu, jadilah sang penulis
sejati.” Kata-kata Pelangi yang satu ini ku catat dalam buku harian dan
kupegang sebagai motivasi setiap kali diriku mulai menulis.
Aku
tidak sendiri lagi saat menjalani hari-hari ku disekolah. Kehadiran pelangi
memberi semangat tersendiri bagiku. Kemunculannya memberiku motivasi untuk
menuliskan sesuatu. Terkadang, aku menggunakan tinta warna-warni untuk
menghiasi kertas putih buku ku. Aku menggoreskan warna-warna indah dalam buku
harianku sebagai simbol kehadiran pelangi yang memberi warna untuk hidupku. Kini
aku tidak hanya menulis buku harian saja, tapi aku juga mengembangkannya
menjadi cerita pendek. Aku juga mulai mempelajari perpaduan rangkaian kata
indah untuk menulis puisi. Sekarang, aku mulai aktif mengirimkan cerpen dan
puisi untuk mengisi mading sekolah. Hampir tiap minggu aku mengganti tulisanku
yang terpampang di mading. Aku juga mulai mengirimkan beberapa karyaku ke
majalah anak-anak dan berharap dapat dipublikasikan dan dibaca semua orang.
Semua yang terjadi tidak terlepas dari peran Pelangi yang menemani, memberi
saran dan menyemangatiku saat menulis. Dimana ada diriku disitu ada Pelangi.
Hidupku
berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang dulunya tidak punya teman,
perlahan-lahan temanku bertambah. Mereka mulai menerima keberadaanku. Semua
siswa mengenalku sebagai Nila sang penulis. Tidak ada lagi kata idiot, aneh dan
autis. Pelangi tersenyum bangga melihatku.
Suatu
pagi aku memasuki kelas. Anehnya aku tidak melihat Pelangi. Ia tidak duduk di bangku
seperti yang biasa kulihat.Waktu demi waktu berlalu, seminggu ini aku tidak
melihat Pelangi. “Permisi Pak, saya mau tanya siswi bernama Pelangi kelas 5C
sudah seminggu tidak masuk kelas. Ada apa dengannya?” tanyaku kepada Pak
Isman kepala sekolah SDN 16. “Maaf nak,
tidak ada siswi bernama Pelangi di sekolah ini” jawab Pak Isman membuatku diam
membeku. Seusai jam sekolah aku duduk termenung dibangku Taman sekolah. Aku
mulai menulis kesedihan dan keanehan yang kualami. “Jangan sedih!”. Suara ini
membangunkan aku dari lamunan. Aku melirik ke kananku, kutatap dan kupeluk
Pelangi sambil menangis. “Jangan nangis Nila, aku tidak bisa terus menerus
menemanimu, kamu harus bisa menghadapi kenyataan didunia ini, sekarang kamu
telah memiliki banyak teman, bertemanlah dengan teman yang nyata.”
“Teman yang nyata?” tanyaku heran
“Percayalah bahwa dirimu ajaib” jawab Pelangi memeluk dan mengusap airmataku.
Desiran angin lembut membelai rambutku. Aku terbangun dari tidurku dibangku taman.
“Teman yang nyata?” tanyaku heran
“Percayalah bahwa dirimu ajaib” jawab Pelangi memeluk dan mengusap airmataku.
Desiran angin lembut membelai rambutku. Aku terbangun dari tidurku dibangku taman.
12 Februari 2012
Dear diary,
Dear diary,
Tepat seminggu aku tidak bertemu
Pelangi. Aku berusaha mencarinya. Bertanya kepada teman-teman, guru dan kepala
sekolah. Tapi, satupun dari mereka tidak ada yang tahu. Bahkan mereka tidak
pernah tahu tentang Pelangi. Banyak keanehan yang terjadi. Ia tidak dikenal
orang lain dan menghilang tanpa jejak, bagaikan ditelan bumi.
Siang ini, aku bertemu Pelangi. Ku
peluk erat dirinya seolah tidak membiarkannya pergi. Aku menangis karena aku
takut kehilangan sahabat yang ku sayangi.
Satu kalimat yang ia bisikkan
kepadaku, kalimat yang tidak akan pernah aku lupakan “Percayalah bahwa dirimu
ajaib”. Kemudian ia pergi dan tidak akan pernah kembali. Selamanya… .
Di balik lembaran ini, kutulis
sebuah puisi sederhana untuk sahabatku.
Melodi untuk Pelangi
Langit gelap dikala
hujan.
Seakan, menghapus semua harapan.
Ketika sang surya menyinari,
Seolah memberi harapan baru.
Membiaskan warna-warni indah,
di langit biru-kelam… .
Warna yang memantulkan jutaan makna.
Menghiasi hidupku, yang hitam-putih.
Dalam diam, engkau pergi,
menghilang dan takkan kembali… .
Kini, sinarmu tinggal kenangan.
Menghilang, meninggalkan kesan dan harapan… .
Seakan, menghapus semua harapan.
Ketika sang surya menyinari,
Seolah memberi harapan baru.
Membiaskan warna-warni indah,
di langit biru-kelam… .
Warna yang memantulkan jutaan makna.
Menghiasi hidupku, yang hitam-putih.
Dalam diam, engkau pergi,
menghilang dan takkan kembali… .
Kini, sinarmu tinggal kenangan.
Menghilang, meninggalkan kesan dan harapan… .
Aku tersadar dari lamunanku. Hujan telah berhenti. Mataku
tertuju ke arah kaki langit. Embun air hujan terdistorsi oleh cahaya mentari
memunculkan efek cahaya tujuh warna sempurna. Cukup lama aku tertegun di
samping jendela kamarku. Sampai akhirnya pelangi itu hilang dan digantikan oleh
cahaya bintang-bintang.
THE END